Senin, 29 Mei 2017
Kamis, 13 April 2017
MAKALAH PENTINGNYA MENGAMALKAN ILMU, HADIST TARBAWI
KATA PENGATAR
Puja dan puji
hendaklah hanya dipanjatkan kepada Illahi Rabbi. Karena berkat rahmat, karunia,
hidayah, serta inayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah tafsir
tarbawi ini. Tentunya semua tercapai tak terlepas dari segala kemampuan dan
keterbatasan yang penulis miliki.
Shalawat dan
salam serta rasa rindu dan cinta semoga selalu tercurah limpah kepada baginda
Rasulullah Muhammad Saw, kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in dan tabi’tnya,
dan Insya Allah telah sampai Risalahnya kepada kita selaku umatnya.
Penulis
ucapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut andil memberi motivasi
dan pengarahan dalam penyusunan makalah tafsir tarbawi. Sebuah harapan apabila
makalah yang telah penulis susun bisa memberi manfaat khususnya bagi penulis,
umumnya untuk pembaca.
Penulis
menyadari bahwa dalam hal penyusunan makalah ini tidak terlepas dari yang
namanya kekurangan baik dari segi penulisan maupun pembahasan, yang mungkin
masih jauh dari apa yang penulis harapkan. Maka saran dan kritik dari
pembacalah yang kami harapkan demi perbaikan di waktu mendatang.
Pada akhirnya
saran dan kritik membangun dari pembacalah yang dapat menyempurnakan makalah
ini. Lebih dan kurang dari isi makalah ini, merupakan bukti adanya keinginan
penulis untuk mengkaji dan menambah wawasan ilmu yang belum sepenuhnya kami
miliki.
Bandung, April 2017
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam islam ,
ilmu memiliki aksiologis yang sangat agung , karena dengan ilmulah semuanya
berawal dalam meniti jalan suci ini . Selain itu ilmu juga dapat
mengangkat derajat bagi siapa saja yang memilikinya. Ungkapan ini bukan asal bunyi saja , namun memiliki
alasan dan bukti mengapa orang berilmu bisa sampai dinaikkan derajatnya ?
derajat mereka naik karena ilmu mereka yang membawa jiwa dan raga mereka ke
tempat yang utama di pandangan manusia dan Tuhan .
Begitulah
nikmatnya islam , sehingga segala tingkah laku kita diatur oleh islam , sampai
pada ilmu pun Islam mengaturnya , mulai dari kewajiban menuntut ilmu ,
mengamalkan ilmu dan ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmu . Hal
tersebut harus kita pelajari secara mendetail sehingga kita tidak termasuk
orang yang salah dalam memahami ilmu.
Ilmu yang
kita peroleh membutuhkan lahan agar ilmu tersebut dapat menjadi penolong bagi
kita yaitu dengan cara mengamalkannya , baik dengan mengajarkannya maupun yang
lainnya . Ilmu tersebut dapat menjadi boomerang bagi kita , jika kita tidak
mengamalkan ilmu tersebut .Ada ungkapan “ jangan biarkan satu orang
pun tersesat karena ilmu yang kita peroleh tidak di amalkan “ .Begitulah
pentingnya mengamalkan ilmu sehingga ada pahala yang menanti kita jika kita
mengamalkan ilmu yang kita perolah ,namun sebaliknya disana juga telah menanti
kehancuran yang sedang mengendap – ngendap di balik layar untuk menjerumuskan
kita , jika kita tidak mengamalkan apa yang kita pelajari .
B. Rumusan
masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah , agar kajiannya fokus maka penulis merumuskan
masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimanakah
urgensi mengamalkan ilmu?
2. Sebutkan
ayat-ayat didalam al-Qur’an yang berkaitan dengan pentingnyamengamalkan ilmu?
3. Bagaimanakah hukum
dan ancaman-ancaman bagi seorang muslim yang tidak mengamalkan
ilmunya?
C. Tujuan
Penulisan
Dari
rumusan masalah di atas ,penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui
urgensi mengamalkan ilmu.
2. Menyebutkan
ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan pentingnya
mengamalkan ilmu.
3. Mengetahui hukum-hukum
dan ancaman-ancaman bagi seorang muslim yang tidak mengamalkan ilmunya
BAB II PEMBAHASAN
A. Urgensi Mengamalkan
Ilmu
Ilmu yang telah kita
peroleh membutuhkan lahan agar ilmu tersebut dapat menjadi penolong bagi kita,
yaitu dengan cara mengamalkannya, baik dengan mengajarkannya maupun yang
lainnya. Jika anda memahamkan sesuatu secara lisan kepada seseorang ,maka
sesungguhnya orang itu tidak belajar selamanya . Hal ini merupakan fardhu
‘ain bagi setiap Muslim. Mengingat adanya ancaman-ancaman di dalam al-Qur’an
bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya padahal ia mengetahui ilmu
tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا
عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya
pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah
ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih) .
B. Ayat-Ayat
yang Menyatakan Pentingnya Mengamalkan Ilmu
Dalam pandangan
Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap
makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan.
Dalam konteks ini, ditemukan ungkapan yang dinilai
oleh sementara pakar sebagai hadis Nabi Saw :”Barangsiapa mengamalkan yang
diketahuinya maka Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum
diketahuinya.” Atas
dasar itu semua, Al-Quran memandang bahwa seseorang yang memiliki ilmu harus
memiliki sifat dan ciri tertentu pula, antara lain yang paling menonjol adalah
sifat khasyat (takut dan kagum kepada Allah) sebagaimana
ditegaskandalamfirman-Nya,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama”(QS.Fathir[35]:28).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama”(QS.Fathir[35]:28).
Dalam
konteks ayat ini, ulama adalah mereka yang memiliki pengetahuan tentang
fenomena alam.Rasulullah Saw. menegaskan bahwa: “Ilmu itu ada dua macam, ilmu
di dalam dada, itulah yang bermanfaat, dan ilmu sekadar di ujung lidah, maka
itu akan menjadi saksi yang memberatkan manusia.
Berikut ini adalah diantara ayat-ayat al-Qur’an yang
berkaitan tentangpentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh:
1.
Surat al-fatihah ayat 7
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ
ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat.”
Penggalan “…..jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat kepada mereka,” menafsirkan “ jalan yang lurus”.
Orang-orang yang telah dianugerahi nikamat oleh Alloh, seperti :
“ Dan barangsiapa mentaatai Alloh dan Rosul-(Nya),
mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh
Alloh, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang
yang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu
adalah karunia dari Alloh, dan Alloh cukup mengetahui,” (an-Nisa: 89-70)
Adh-Dahhak namenceritakan dari Ibnu Abbas,” jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya karena menaati dan
menyembah-Mu, yaitu dari kalangan para malaikat-Mu, shiddiqin, orang-orang yang
mati syahid, dan orang-orang soleh.” Hal ini sama dengan firman Robb kita,’
Hamid bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim,
ia berkata,” Saya bertanya kepada Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam.
Tentang “ Bukan (jalan) mereka yang dimurkai...., beliau bersabda, yaitu
kaum Yahudi.’ Dan bertanya tentang “...bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’
Beliau bersabda,” kaum Nashroni adalah orang-orang yang sesat.’ Begitu
pula hadits yang diriwayatkan’.” Beliau bersabda,’kaum kaum nashroni adalah
orang-orang yang sesat.’ Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Sufyan bin
Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu
Dzar, ia berkata,” saya bertanya kepada Rasulullohsholallohu ‘alaihi wasallam.
Tentang orang-orang yang dimurkai, beliau bersabda,’kaum Yahudi.’ Saya bertanya
tentang orang-orang sesat, beliau bersabda,’ kaum Nashroni.
Surat al-fatihah
ayat ke-7 ini memberitahukan kepada kita bahwa ada 3 golongan yang berbeda
nasib:
1.
Orang yang telah dianugerahkan nikmat kepada mereka. Merekalah orang yang
beruntung karena mereka mempunyai ilmu akan kebenaran dan pengamalannya dari
ilmu tersebut.
2.
Orang Yahudi, mereka adalah orang yang mempunyai ilmu tetapi tidak beramal
dengannya sehingga mereka berhak mendapat murka Alloh.
3.
Orang Nashroni, mereka adalah orang yang tidak mempunyai ilmu tetapi mereka
beramal tanpa ilmu, sehingga mereka diklaim sebagi orang yang sesat bahkan bias
menyesatkan orang lain.
Bertumpu pada hal
tersebut maka seyogianya kita sebagai seorang Muslim untuk mengikuti langkah
orang yang telah dianugerahkan nikmat kepada mereka, karena mereka mempunyai
ilmu dan beramal dengan ilmu tersebut.
2. Qur’an
Surat At-Taubah ayat 122
وَمَا
كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ
فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ
قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ ١٢٢
“Tidak sepatutnya
bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.”
Ayat ini merupakan
penjelasan dari Alloh Ta’ala bagi berbagai golongan penduduk Arab yang hendak
berangkat bersama Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam ke perang Tabuk. Sesungguhnya
, ada segolongan ulama salaf yang berpendapat bahwa setiap muslim wajib
berangkat untuk berperang, apabila
Rasululloh pun
berangkat. Oleh karena itu, Alloh Ta’ala berfiraman,” Maka, pergilah kamu
semua dengan ringan maupun berat.” (At-Taubah:41).
Surat at-taubah di
atas dinasakh oleh firman Alloh “ tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah
dan orang-orang arab Badui yang berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai
Rasululloh.” (at-taubah;120). Pendapat lain mengatakan: semua golongan dari
penduduk Arab yang muslim wajib berangkat perang. Kemudian, dari sekian
golongan itu harus ada yang menyertai Rasululloh sholallohu ‘alaihi
wasallamguna memahami agama lewat wahyu yang diturunkan kepadanya, kemudian
mereka dapat memperingatkan kaumnya apabila mereka telah kembali, yaitu ihwal
persoalan musuh.
Ayat ini menerangkan
tentang kewajiban seluruh kaum muslimin arab untuk mengikuti perang bersama
Rasululloh. Kemudia dari sekian golongan itu harus ada yang berdiam diri untuk
menimba ilmu dari Rasullulloh Artinya, bahwa pendalaman ilmu agama itu
merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti,
dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakkan
sendi-sendi islam ..
Dalam ayat ini
adalah kalimat (untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali). Maka jelaslah pentingnya orang yang menuntut ilmu kemudian
mengamlakan ilmunya tersebut dengan cara mengajarkannya (memberi peringatan)
kepada kaumnya. Sehingga ilmu tersebut bisa berguna bagi dirinya dan orang
lain. Tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama itu karena
ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka
tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan
harapan supaya mereka takut kepada Allah dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan,
disamping agar seluruh kaum mukmin mengetahui agama mereka, mampu menyebarkan
dakwahnya dan membelanya, serta menerangkan rahasia-rahasianya kepada
seluruhumatmanusia.
3.
Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr ayat 3
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ
ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
Artinya: “Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Ayat ini
menyebutkan tentang kriteria orang-orang yang terbebas dari justifikasi“rugi”. Diantaranya
ada dua syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh seorang hamba yakni
sebagai berikut:
1. Iman
Syarat pertama,
yaitu beriman kepada Allah swt. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa
ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak
akan sempurna jika tanpa ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu
agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang
dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan
agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang
hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia
butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya.
2. Amal
Syarat yang kedua
adalah amal. Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat
bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang
dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku
yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.
Mengenai ayat ini,
Ibnu Katsir mengungkapkan di dalam tafsirnya:
Dengan demikian
Alloh memberikan pengecualian dari kerugian itu kepada orang-orang yang beriman
dengan hati mereka, dan mengerjakan amal shaleh dengan anggota tubuh mereka,
mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan, dan
bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta gangguan-gangguan yang
dilancarkan kepada orang-orang yang mengamalkan amal ma’ruf
dan nahi munkar.
Hadits
yang Berkaitan dengan Pentingnya Mengamalkan Ilmu
من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي
الدِّيْنِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama.”(HR
Bukhari dan Muslim).
Jika seorang
mengetahui syariat Alloh, akan tetapi ia tidak mengamalkannya, maka orang
seperti itu bukanlah seorang yang fakih (memahami isi agamanya), sekalipun ia
hafal dan memahami isi kitab fikih paling besar diluar kepala. Ia hanya
dinamakan seorang qori saja. Orang fakih adalah orang
yang mengamalkan ilmunya
Dari sinilah kejelasan informasi yang
disampaikan oleh Ibnu Mas’ud yang hendak memberitahukan kepada kita tentang
pentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita perolah. Sehingga kita menjadi
orang yang dikatakan faqih dalam hadits tersebut, bukan seorang Qori yang hanya
membaca saja tanpa ada amal yang ia lakukan dari ilmu tersebut.
Orang-orang seperti mereka ini terbagi kepada dua
kelompok:
1. Sekelompok orang
yang mengerti dan memahami serta mengamalkan al-quran dan sunnah kemudian
mengajarkannya kepada orang lain.
2. Sekelompok orang
yang hanya mampu menyampaikannya saja. Contohnya seperti orang yang
meriwayatkan dan menghafal sebuah hadits, namun tidak memahaminya.
Dari
Ibnu Mas’ud Ra. Berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu hasud
kecuali dalam dua hal : orang yang diberi kekayaan allah, maka dipergunakan
untuk membela haq kebenaran, dan orang yang diberi oleh allah ilmu pengetahuan,
hikmah maka diajarkan kepada semua orang.” (HR.Bukhari Muslim)
Dari Abdullah Bin Amru Bin Al-ash Ra. Berkata : Bersabda Nabi SAW : “Sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakan tentang bani israil dengan tiada terbatas dan siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya menentukan tempatnya dalam api neraka.” (HR. Bukhari).
Dari Abdullah Bin Amru Bin Al-ash Ra. Berkata : Bersabda Nabi SAW : “Sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakan tentang bani israil dengan tiada terbatas dan siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya menentukan tempatnya dalam api neraka.” (HR. Bukhari).
Dari Abu Hurairah Ra. Bahawasanya Rasulullah SAW
telah bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan berpegian dengan maksud
mencari ilmu, niscaya allah memudahkan baginya jalan ke surga” (HR. Muslim).
Dari Abu Darda Ra. Berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Siapa yang melalui jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Dan seseorang yang berilmu (alim) dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi danikan-ikandidalamair.”
Abu Umamah Ra. Berkata : Rasulullah SAW. Bersabda : “Kelebihan orang ‘almi (berilmu pengetahuan) dari orang yang ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu, kemudian Nabi bersabda : “Sesungguhnya allah dan para malaikatnya dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lobangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan kepada guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Jika mati anak Adam (manusia) maka terputuslah amal usahanya kecuali tiga hal : sedekah yang berjalan terus (amal jariah), ilmu pengetahuan yang berguna, anak yang salehmendo’akanpadaNya.”(HR.Muslim).
Dari Anas Ra Berkata : Rasulullah SAW. Bersabda : “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu ia berjuang Fi Sabilillah hingga kembali.” (HR Tirmidzi).
“Kelebihan orang yang berilmu pengetahuan dengan orang yang beribadah bagaikan kelebihan sinar bulan atas lain-lain binatang. dan sesungguhnya ulama’ sebagai pewaris nabi-nabi, sesungguhnya nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham hanya mereka mewariskan ilmu agama, maka siapa yang tela mendapatkannya berarti telah mengambil bahagiaan yang besar.” (HR.Abu Daud, danAt-Tirmidzi).
Dan dari Ibnu Mas’ud Ra. Berkata : “Saya telah mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Allah akan memberi cahaya yang berkilauan pada orang yang telah mendengar ajaranku, lalu disampaikanya kepada orang lain sebagai mana pendengarnnya. Ada kalanya orang yang disapaikan padanya lebih mengerti dari padapendengaritusendiri.”(HR.Thirmidzi).
Bersabda Rasulullah SAW “Tidurnya orang alim itu lebih utama dari ibadanyaorangbodoh.”
Dari Ibnu Umar Ra. Berkata: “Bersabda Rasulullah SAW. : “Setiap sesuatu ada jalannya dan jalan ke surga adalah dengan ilmu.” (HR. Dailamy).
"Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang berguna untuk Allah, Allah akan memberi pahala kebajikan penghuni dunia selama 7.000 tahun. Puasa siang harinya serta ibadah malam harinya selalu diterima Allah tanpa ada yang ditolak." (Hadist).
Dari Abu Darda Ra. Berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Siapa yang melalui jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Dan seseorang yang berilmu (alim) dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi danikan-ikandidalamair.”
Abu Umamah Ra. Berkata : Rasulullah SAW. Bersabda : “Kelebihan orang ‘almi (berilmu pengetahuan) dari orang yang ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu, kemudian Nabi bersabda : “Sesungguhnya allah dan para malaikatnya dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lobangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan kepada guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Jika mati anak Adam (manusia) maka terputuslah amal usahanya kecuali tiga hal : sedekah yang berjalan terus (amal jariah), ilmu pengetahuan yang berguna, anak yang salehmendo’akanpadaNya.”(HR.Muslim).
Dari Anas Ra Berkata : Rasulullah SAW. Bersabda : “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu ia berjuang Fi Sabilillah hingga kembali.” (HR Tirmidzi).
“Kelebihan orang yang berilmu pengetahuan dengan orang yang beribadah bagaikan kelebihan sinar bulan atas lain-lain binatang. dan sesungguhnya ulama’ sebagai pewaris nabi-nabi, sesungguhnya nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham hanya mereka mewariskan ilmu agama, maka siapa yang tela mendapatkannya berarti telah mengambil bahagiaan yang besar.” (HR.Abu Daud, danAt-Tirmidzi).
Dan dari Ibnu Mas’ud Ra. Berkata : “Saya telah mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Allah akan memberi cahaya yang berkilauan pada orang yang telah mendengar ajaranku, lalu disampaikanya kepada orang lain sebagai mana pendengarnnya. Ada kalanya orang yang disapaikan padanya lebih mengerti dari padapendengaritusendiri.”(HR.Thirmidzi).
Bersabda Rasulullah SAW “Tidurnya orang alim itu lebih utama dari ibadanyaorangbodoh.”
Dari Ibnu Umar Ra. Berkata: “Bersabda Rasulullah SAW. : “Setiap sesuatu ada jalannya dan jalan ke surga adalah dengan ilmu.” (HR. Dailamy).
"Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang berguna untuk Allah, Allah akan memberi pahala kebajikan penghuni dunia selama 7.000 tahun. Puasa siang harinya serta ibadah malam harinya selalu diterima Allah tanpa ada yang ditolak." (Hadist).
C. Hukum Mengamalkan Ilmu
dan Ancamannya
Mengamalkan ilmu merupakan suatu kewajiban pokok
setiap Muslim. Adapun meninggalkannya memilki konsekuensi yang beragam,
tergantung hukum dari amalan yang ditinggalkan, hukumnya bisa jadi kufur,
maksiat, makruh, atau mubah.
1. Meninggalkan
beramal dengan ilmu yang merupakan kekufuran, seperti meninggalkan untuk
mengamalkan tauhid. Seseorang mengetahui bahwasanya wajib mentauhidkan Allah
dalam ibadah dan tidak boleh berbuat syirik, tetapi dia meninggalkan tauhid ini
dengan melakukan perbuatan syirik, Maka dengan demikian dia telah terjatuh
dalam kekufuran.
2. Meninggalkan
beramal dengan ilmu yang merupakan maksiat, seperti melanggar salah satu
larangan Allah. Seseorang mengetahui bahwasanya khamr itu diharamkan. Tetapi
dia malah meminumnya atau menjualnya. Maka orang ini telah jatuh dalam keharaman
dan telah berbuat maksiat.
3. Meninggalkan
beramal dengan ilmu yang merupakan perbuatan makruh, seperti menyelisihi
tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah tatacara ibadah.
Seseorang telah mengetahui bahwasanya Rasulullah melakukan shalat dengan cara
tertentu kemudian dia menyelisihinya, maka dengan penyelisihannya itu dia telah
jatuh dalam perkara yang makruh.
4. Meninggalkan
beramal dengan ilmu bisa jadi mubah. Seperti tidak mengikuti Rasulullah dalam
perkara-perkara yang merupakan kebiasaan Rasulullah yang tidak disunnahkan atau
diwajibkan bagi kita untuk menirunya, seperti tatacara berjalan, warna suara
dan semisalnya.
Sungguh sangat
bagus ucapan Al-Fudhail Bin ‘Iyadh :
(لا يزال العالم جاهلاً حتى يعمل بعلمه فإذا
عمل به صار عالماً)
“Seorang ‘alim
tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya
maka barulah ia dikatakan seorang alim.”
Ucapan ini
mengandung makna yang dalam. Seseorang mempunyai ilmu namun tidak diamalkan
maka ia tetap dikatakan jahil (bodoh). Mengapa? Karena tidak ada yang
membedakan antara dirinya dengan orang yang jahil (bodoh) jika dia memiliki
ilmu tapi dia tidak mengamalkan ilmunya. Seseorang yang berlimu tidak dikatakan
‘alim / ulama yang tulen kecuali jika ia mengamalkan ilmunya.
Beberapa
ancaman yang diterangkan di dalam hadits untuk orang yang
engganmengamalkanilmunya:
1.“Orang yang berilmu ilmu dan amal (masuk ke) dalam surga, maka apabila orang yang berilmu tidak mengamalkan (ilmunya) maka ilmu dan amal masuk ke surga dan orang yang berilmu masuk ke dalam neraka.” (HR. Ad-Dailami).
2.“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa ditanya tentang susuatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat akan dikendalikan (diikat) mulutnya dengan kendali tali dari api neraka.” (HR.Abudauddantirmidzi).
3.“Dari Abdullah Bin Umar Ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa menyembunyikan suatu ilmu, maka allah akan mengendalikan (mengikat) mulutnya pada hari kiamat dengan tali kendali dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah).
4.“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : “Bersabda Rasulullah SAW. : “Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan kepada allah, tiba-tiba ia tidak mempelajari itu untuk Allah (untuk agama Allah) hanya untuk mendapat kedudukan atau kekayaan dunia maka tidak akan mendapat baunya surga pada harikiamat.”(HR.AbuDaud).
5.Dari Abu Said Ra. Berkata : “Bersabda Rasulullah SAW. : ”Orang yang menyembunyikan ilmu maka dia mendapat kutukan dari segala sesuatu sehingga ikan dilaut dan burung di udara juga mengutuknya.” (HR.Abu Dzur)
6."Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang berguna, Allah Akan Memberi Pahala kebajikan penghuni dunia selama 7000 tahun. Puasa siag Harinnya serta ibadah malam harinya selalu diterima Allah tanpa ada yang di tolak" (Al-Hadist)
1.“Orang yang berilmu ilmu dan amal (masuk ke) dalam surga, maka apabila orang yang berilmu tidak mengamalkan (ilmunya) maka ilmu dan amal masuk ke surga dan orang yang berilmu masuk ke dalam neraka.” (HR. Ad-Dailami).
2.“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa ditanya tentang susuatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat akan dikendalikan (diikat) mulutnya dengan kendali tali dari api neraka.” (HR.Abudauddantirmidzi).
3.“Dari Abdullah Bin Umar Ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa menyembunyikan suatu ilmu, maka allah akan mengendalikan (mengikat) mulutnya pada hari kiamat dengan tali kendali dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah).
4.“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata : “Bersabda Rasulullah SAW. : “Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan kepada allah, tiba-tiba ia tidak mempelajari itu untuk Allah (untuk agama Allah) hanya untuk mendapat kedudukan atau kekayaan dunia maka tidak akan mendapat baunya surga pada harikiamat.”(HR.AbuDaud).
5.Dari Abu Said Ra. Berkata : “Bersabda Rasulullah SAW. : ”Orang yang menyembunyikan ilmu maka dia mendapat kutukan dari segala sesuatu sehingga ikan dilaut dan burung di udara juga mengutuknya.” (HR.Abu Dzur)
6."Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang berguna, Allah Akan Memberi Pahala kebajikan penghuni dunia selama 7000 tahun. Puasa siag Harinnya serta ibadah malam harinya selalu diterima Allah tanpa ada yang di tolak" (Al-Hadist)
Dari
Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ
كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ،
فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ
وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat
lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka.
Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas
penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada
apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan
dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu
memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya.
Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang
mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa
kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS
Al-Shaff [61] ayat : 2-3)
“Mengapa kalian menyuruh orang lain berbuat
kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca
Al-Kitab? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS Al-Baqarah [2] ayat 44)
Rasulullah Saw bersabda : “Kami berlindung kepada
Allah dari ilmu yang tiada bermanfaat, yaitu ilmu yang tidak diamalkan dengan
ikhlas. Dan ketahuilah! Bahwa ilmu walaupun sedikit membutuhkan amal yang
banyak, karena ilmu walaupun sedikit diwajibkan bagi pemiliknya untuk
mengamalkannya sepanjang hidupnya.” (Al-Hayah 2: 274; Bihar al-Anwar 2 :
32)
Rasulullah Saw bersabda : “Perumpamaan orang yang
mengetahui kebaikan tapi tidak mengamalkannya adalah seperti lampu (lilin) yang
menerangi orang banyak tapi justru membakar dirinya sendiri.” (Al-Hayah 2 :
278)
Imam Ali as berkata : “Rusaknya ilmu adalah karena
meninggalkan amal.” (Ghurar al-Hikam : 136-137)
Imam Al-Shadiq as berkata : “Orang yang paling pedih
azabnya (di neraka) adalah seorang yang berilmu (‘alim) tetapi ilmunya tidak
memberikan manfaat baginya sedikit pun.” (Al-Hayah 2 : 276; Bihar al-Anwar 2 :
37)
Imam Ali as berkata : “Maka Allah mengutuk
orang-orang bodoh karena mereka bergelimang maksiat dan Dia mengutuk
orang-orang yang berilmu karena enggan mencegah perbuatan munkar!” (Nahjul
Balaghah dengan komentar DR. Subhi Shalih, hlm. 299)
D. Analisa Umum
Mengenai Urgensi Mengamalkan Ilmu
Setelah kita mengkaji bersama, maka kita dapati
betapa urgennya hal ini. Bisa dikatakan sebagai sebuah determinasi yang
menyebabkan manusia mendapat kemuliaan yang besar ataukah kehinaan yang sangat
rendah.
Adakalanya seorang hamba memperoleh suatu nilai dan
kedudukan yang sangat tinggi disisi Robb-Nya karena ilmu yang telah ia amalkan
di dalam kehidupannya. Dan adapula seorang hamba yang merugi, tertimbun dalam
api penyesalan lantaran tidak mengamalkan ilmunya.
Maka sebagai tholabul ‘ilm, hendaknya kita harus lebih berhati-hati. Jangan
sampai ilmu yang kita dapatkan saat ini kelak akan menjadi sebuah bumerang
mengerikan yang menyeret kita ke dalam api neraka. Na’udzu billahi min
dzalik
Ilmu
hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika
ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang
pemiliknyaSungguh indah wasiat Al-Khathib al-Baghdadi kepada para penuntutilmu:
إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، ... وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ ...
وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ
Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”
Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.
إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، ... وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ ...
وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ
Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”
Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.
E. Antusias
dalam Menuntut Ilmu
Ucapan
oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib: "Nilai setiap orang tergantung pada apa
yang dia kuasai." Tidaklah ada satu kalimat pun yang lebih bisa memberikan
semangat bagi penuntut ilmu daripada kalimat ini. Maka, waspadalah terhadap
kesalahan orang yang berkata: "Generasi awal tidaklah meninggalkan apa pun
untuk yang sesudahnya," akan tetapi lafazh yang benar adalah: "Berapa
banyak yang ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi berikutnya."
Maka, kewajibanmu adalah memperbanyak belajar Sunnah Nabawiyah, dan curahkan
kemampuanmu dalam menuntut, menimba, serta meneliti ilmu. Karena, setinggi apa
pun ilmumu, engkau harus tetap ingat bahwa: "Berapa banyak yang masih
ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi selanjutnya."
kalimat yang paling bisa memberikan semangat belajar
para penuntut ilmu adalah ilmu akan menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang
yang dikehendaki oleh ALLAH SWT ,yaitu orang-orang yang mempelajari ilmu agama
yang benar dengan baik .firman Allah (yang artinya), ".... Katakanlah:
'Adaklah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui ...." (Az-Zumar: 9).
Juga, firman-Nya, "... niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat ...." (Al-Mujaadilah: 11). Dan, sabda
Nabi saw., "Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapatkan kebaikan,
maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agama." (HR Bukhari dan
Muslim). Dan, sabda beliau pula, "Ulama adalah pewaris para nabi."
(HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ad-Darimi).
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dan
pembahasan di atas ,dapat disimpulkan bahwa :
1. Mengamalkan
ilmu merupakan fardhu ‘ain bagi setiap Muslim. Mengingat adanya ancaman-ancaman
di dalam al-Qur’an bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya padahal ia
mengetahui ilmu tersebut.
2. Ayat-Ayat
yang Menyatakan Pentingnya Mengamalkan Ilmu
a. Surat
Al-Fatihah ayat 7
“(yaitu) Jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
b. Qur’an
surat At-Taubah ayat 122
“Tidak sepatutnya bagi
mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.”
c. Al-Qur’an
surat Al-‘Ashr ayat 3
“Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
3. Hukum
orang yang tidak mengamalkan ilmu
Meninggalkannya memilki
konsekuensi yang beragam, tergantung hukum dari amalan yang ditinggalkan,
hukumnya bisa jadi kufur, maksiat, makruh, atau mubah.
4. Analisa
Umum Mengenai Urgensi Mengamalkan Ilmu Bisa dikatakan sebagai sebuah
determinasi yang menyebabkan manusia mendapat kemuliaan yang besar ataukah
kehinaan yang sangat rendah.
5. Kalimat yang paling bisa
memberikan semangat belajar para penuntut ilmu adalah firman Allah (yang
artinya), ".... Katakanlah: 'Adaklah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui ...." (Az-Zumar: 9).
B. Saran
Pembaca diharapan mengoreksi
kesalahan yang telah dibuat oleh penuis pada pembuatan makalah ini .
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim dan
terjemahannya
Abdush Shobur dan Haifa Zahra
Anggawie,”Sungguh Allah Sangat Merindukan Kita,”yang Belajar yang Berilmu(Jakarta:
PT Elex Media Komputindo, 2014)
Bernard Shaw ,Perbarui Hidupmu,
Keisya Aviecenna,”Beauty
Jannaty,”
Dr. Muhammad Al-Ghazali,”Perbarui
Hidupmu,”
https://qitori.wordpress.com/2009/03/23/berilmu-tapi-tidak-diamalkan/diunduhpada
Sabtu 7 Maret 2015
Ibid.,hlm.127
Senin, 10 April 2017
MAKALAH
Teori tentang pendidikan dan pengembangan potensi
fitrah insani
Untuk memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar
pendidikan
Disusun Oleh :
·
Willi Aditya
·
M. Ridwan
·
Dewi rahmawati
·
Irsyad muhammad rizal
·
M. rizky
·
Ihsan soleh (tidak ikut mengerjakan)
·
Deden (tidak ikut mengerjakan)
FAKULTAS
TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
STAI BAITUL ARQOM
2017
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Panyayang, kesehatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini.
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya. Hingga
berkat ridho-nya terselsaikannya makalah kami yang berjudul “Teori tentang
pendidikan dan pengembangan potensi fitrah insani”
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal
meskipun masih banyak yang harus kami perbaiki. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Penyusun
BAB IPENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan upaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan (Kartini
Kartono, 1997:11). Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau
pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani
si terdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.
Demikian
dua pengertian pendidikan dari sekian banyak pengertian yang diketahui. dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor : 2 Tahun 1989, “pendidikan
dirumuskan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akang datang.
Sedangkan, “pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan
atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya,
pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai
usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik
jasmaniah maupun rohaniah.
Para
ahli Filsafat Pendidikan, menyatakan bahwa dalam merumuskan pengertian
pendidikan sebenarnya sangat tergantung kepada pandangan terhadap manusia;
hakikat, sifat-sifat atau karakteristik dan tujuan hidup manusia itu sendiri.
Perumusan pendidikan bergantung kepada pandangan hidupnya.
Dengan
demikian, terdapat keaneka ragaman pendangan tentang pendidikan. Tetapi, “dalam
keanekaragaman pandangan tentang pendidikan terdapat titik-titik persamaan
tentang pengertian pendidikan, yaitu pendidikan dilihat sebagai suatu proses;
karena dengan proses itu seseorang (dewasa) secara sengaja mengarahkan
pertumbuhan atau perkembangan seseorang (yang belum dewasa). Proses adalah
kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai-nilai yang
merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.
Dari
pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar “transfer
of knowledge” ataupun “transfer of training”, ….tetapi lebih merupakan suatu
sistem yang ditata di atas pondasi “keimanan” dan “kesalehan”, yaitu suatu
sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan
Dengan
demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan
dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai islam.
Dalam
al-Qur’an, dikatakan “tegakkan dirimu pada agama dengan tulus dan mantap, agama
yang cocok dengan fitrah manusia yang digariskan oleh Allah. Tak ada perubahan
pada ketetapan-Nya….” (ar-Rum : 30). Dengan demikian, manusia pada mulanya
dilahirkan dengan “membawa potensi” yang perlu dikembangkan dalam dan oleh
lingkungannya. Pandangan ini, “berbeda dengan teori tabularasa yang menganggap
anak menerima “secara pasif” pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah
mengandung “potensi bawaan” aktif (innate patentials, innate tendencies) yang
telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah.
Jadi,
dari pandangan di atas, pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensibawaan”
seperti potensi “keimanan”, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab,
potensi kecerdasan, potensi fisik. Karena dengan potensi
ini, manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya
dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia
muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.
2. Rumusan Masalah
Apa Saja Teori Pendidikan?
3. Tujuan Penulisan Makalah
Untuk
Mengetahui Apa Saja Teori Pendidikan
BAB IIPEMBAHASAN
1) Pengertian
Pendidikan
Kamus
Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu
kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga
menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam
memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan
mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut
UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan
merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam mencapai
kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive di dalam
kompetisi kehidupannya. karena pendidikan adalah suatu kegiatan yang sistematis
dan terarah kepada terbentuknya kepribadian individu, di semua lingkungan yang
mengisi dan memfasilitasi ( lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat ).
Pendidikan
juga merupakan aktivitas untuk melayani orang lain dalam mengeksplorasi segenap
potensi dirinya, sehingga terjadi proses perkembangan kemanusiaannya agar mampu
berkompetisi di dalam lingkup kehidupannya (Insan Cerdas dan Kompetitif).
2) Teori-teori
Pendidikan
1.
Koneksionisme
Teori
koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh
Edward L. Thorndike (1874, 1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada
tahun 1890-an, eksperimen Thondike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing
untuk mengetahui fenomena belajar. Dalam eksperimen kucing itu atau puzzle box
kemudian dikenal dengan nama instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau
ganjaran yang dikehendaki (Hintzman,1978).
Berdasarkan
eksperimen itu, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara
stimulus dan respon, itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R
Bond theory” dan S-R psychology of learning”.
2. Pembiasaan
Klasik(classical conditioning)
Teori
pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil
eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Povlo (1849-1936) seorang ilmuwan besar
Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel pada tahun 1909.
Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut 9terrace, 1973).
Dalam eksperimennya Pavlor menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioning stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan Unconditioned response (UCR).
CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respon yang dipelajari
CR adalah respon yang dipelajari itu sendiri
UCS adalah rangsangan yang menimbulkan respon yang tidak dipelajari
UCR adalah respon yang tidak dipelajari
Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut 9terrace, 1973).
Dalam eksperimennya Pavlor menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioning stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan Unconditioned response (UCR).
CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respon yang dipelajari
CR adalah respon yang dipelajari itu sendiri
UCS adalah rangsangan yang menimbulkan respon yang tidak dipelajari
UCR adalah respon yang tidak dipelajari
3. Pembiasaan
Perilaku Respon(operant conditioning)
Teori
pembiasaan perilaku respon (operant conditioning) penciptanya bernama Burhus
Fredic Skimer (lahir tahun 1904) seorang penganut behaviorism yang dianggap
kontroversial. Tema yang mewarnai karyanya adalah bahwa tingkah Laku itu
terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu
sendiri (Bruno, 1987)
4. Teori
Pendekatan Kognitif
Teori
psikologi kognitif adalah bagian terpenting bagi sains kognitif yang telah
memberi konstribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi.
Pendidikan sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri atas
psikologi kognitif, ilmu-ilmu komputer, linguistik, intelegensi buatan
matematika, epistemology dan neuropsychological/ psikologi syaraf.
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif tingkah laku manusia tampak tidak dapat diukur dan diterbangkan tanpa melibatkan proses mental seperti; motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif tingkah laku manusia tampak tidak dapat diukur dan diterbangkan tanpa melibatkan proses mental seperti; motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.
5. Teori
Kognitive – Gestalt – Field
Teori
kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Teori ini berbeda
dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalh mengetahui
dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan
Stimulus-respons.
Teori
Gestalt,berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer,
menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hubungan anatar satu bagian
dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz,
menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu.
Teori
medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam suatu medan
atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai,
tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan.
Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut :
Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut :
a. Proses
atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan Stimulus,
Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif
b.
b. Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri.
b. Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri.
3) Teori Pendidikan menurut Nana S. Sukmadinata
Kurikulum
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu
kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan
teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu.
Nana S.
Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan, yaitu :
1.Pendidikan
klasik,
Teori
pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme,
Eessensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan
berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya.
Teori ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses.
Isi
pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan
dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan
sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih
dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima
informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
2.Pendidikan
pribadi
Teori
pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah
memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan
potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan
minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama
pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih
berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori
pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis.
yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan
mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi
diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan
pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis),
3.Teknologi
pendidikan,
Teknologi
pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan
pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi.
Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, lebih
diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau
kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.
Dalam teori
pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus,
berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah
kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program
atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media
elektronika dan para peserta didik belajar secara individual.
Peserta didik
berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien
tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam
masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak tugas-tugas
pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
4.Pendidikan
interaksional,
Pendidikan
interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran
manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama
dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga
berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan
interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik
kepada guru.
Lebih dari itu,
dalam teori pendidikan ini, interaksi juga terjadi antara peserta
didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran
manusia dengan lingkungannya. Interaksi terjadi melalui berbagai bentuk dialog.
Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta.
Peserta didik
mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan
interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks
kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat
rekonstruksi sosial.
3) Pendekatan-Pendekatan
dalam Teori Pendidikan
Pendidikan dapat
dilihat dalam dua sisi yaitu:
(1) pendidikan
sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori.
Pendidikan
sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat
diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain/peserta didik agar
memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai
teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis
yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol
berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari
pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan
yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.
Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).
Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).
1.
Pendekatan Sains
Pendekatan sains
yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan
masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai
dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan
prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat
kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris
menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi.
Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi.
Tentunya
masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin
berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.
2. Pendekatan
Filosofi
Pendekatan
filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah
pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat
karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata,
yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul
masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak
terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak
mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah
tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai
pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun
pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh
sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).
Dari
kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori
pendidikan, diantaranya: (1) perenialisme; (2) esensialisme; (3) progresivisme;
dan (4) rekonstruktivisme. (Ella Yulaelawati, 2003).
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Essensialisme menekankan
pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada
peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika,
sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi
kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan
perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
Eksistensialisme menekankan
pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk
memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini
mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?
Progresivisme menekankan
pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik,
variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi
pengembangan belajar peserta didik aktif.
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
3. Pendekatan
Religi
Pendekatan
religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber
dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan
nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk
menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.
Cara
kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana
cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan
religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut
orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru
kemudian mengerti, bukan sebaliknya.
Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
Sementara
itu, Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu
muslim yang sempurna dengan ciri-ciri : (1) memiliki jasmani yang sehat, kuat
dan berketerampilan; (2) memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu
menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan
filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan
filsafat (3) memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela
melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati
yang berkemampuan dengan alam gaib.
Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. (selengkapnya lihat pemikiran Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam)
Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.
Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. (selengkapnya lihat pemikiran Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam)
Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.
A. Pengertian
Fitrah
Fitrah
berasal dari kata fathara yang sepadan dengan kata khalaqa dan ansyaa yang
artinya mencipta. Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansyaa digunakan dalam
Al-Qur’an untuk menunjukkan pengertian mencipta sesuatu yang sebelumnya belum
ada dan masih merupakan pola dasar (blue print) yang perlu penyempurnaan.
B. Fitrah
manusia
Konsep
fitrah manusia yang mengandung pengertian pola dasar kejadian manusia dapat
dijelaskan dengan meninjau:
ü Hakekat
wujud manusia,
ü Tujuan
penciptaannya,
ü Sumber
Daya Insani (SDM),
ü Citra
manusia dalam islam.
Dari
hakekat wujudnya sebagai makhluk individu dan sosial dapat disimpulkan bahwa
menurut pandangan islam keberadaan pribadi seseorang adalah:
·
Pribadi yang aktivistik
karena tanpa aktivitas dalam masyarakat berarti adanya sama dengan tidak ada
(wujuduhu ka ‘adamihi), artinya hanya dengan aktivitas, manusia baru diketahui
bagaimana pribadinya.
·
Pribadi yang
bertanggung jawab secara luas, baik terhadap dirinya, terhadap lingkungannya,
maupun terhadap tuhan.
Dengan
kesimpulan di atas mengeinplisitkan adanya pandangan rekonstruksionisme
(rekonstruksi sosial) dalam pendidikan islam melalui individualisasi dan
sosialisasi.
1. Tujuan
Penciptaan
Tujuan
utama penciptaan manusia ialah agar manusia beribadah kepada Allah. (Q.S. Az-Zahriyah:
56).
Manusia
dicipta untuk diperankan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. (Q.S. Al-Baqarah:
30, Yunus 14, Al-An’am: 165).
Manusia
dicipta untuk membentuk masyarakat manusia yang saling kenal-mengenal, hormat
menghormati dan tolong-menolong antara satu dengan yang lain (Q.S. Al-Hujurat:
13), tujuan penciptaan yang ketiga ini menegaskan perlunya tanggung jawab
bersama dalam menciptakan tatanan kehidupan dunia yang damai.
2. Sumber Daya Manusia
Esensi
SDM yang membedakan dengan potensi-potensi yang diberikan kepada makhluk
lainnya dan memang sangat tinggi nilainya ialah “kebebasan” dan “hidayah
Allah”, yang sesungguhnya inheren dalam fitrah manusia.
3. Citra manusia
dalam Islam.
Berdasarkan
uraian tentang fitrah manusia ditinjau dari hakekat wujudnya, tujuan
penciptaannya dan sumber daya insaninya, tergambar secara jelas bagaimana citra
manusia menurut pandangan islam:
Islam
berwawasan optimistik tentang manusia dan sama menolak sama sekali anggapan
pesimistik dari sementara filosof eksistensialis yang menganggap manusia
sebagai makhluk yang terdampar dan terlantar dalam hidup dan harus bertanggung
jawab sendiri sepenuhnya atas eksistensinya.
Perjuangan
hidup manusia bukan sekedar trial and error belaka tetapi sudah mempunyai arah
dan tujuan hidup yang jelas dan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha
Bijaksana. Untuk mencapainya manuia telah diberi pedoman serta kemampuan, yakni
akal dan agama.
Manusia
makhluk yang paling mampu bertanggung jawab karena dikaruniai seperangkat alat
untuk dapat bertanggung jawab yaitu kebebasan berpikir berkehendak, dan
berbuat.
C. Implikasi
Fitrah Manusia Dalam Pendidikan
1. Pemberian
stimulus dan pendidikan demokratis
Manusia
ditinjau dari segi fisik-biologis mungkin boleh dikatakan sudah selesai,
“Physically and biologically is finished”, tetapi dari segi rohani, spiritual
dan moral memang belum selesai, “morally is unfinished”.
Manusia
tidak dapat dipandang sebagai makhluk yang reaktif, melainkan responsif,
sehingga ia menjadi makhluk yang responsible (bertanggung jawab). Oleh karena
itu pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan stimulus dan
dilaksanakan secara demokratis.
2. Kebijakan
pendidikan perlu pertimbangan empiris.
Dengan
bantuan kajian psikologik, implikasi fitrah manusia dalam pendidikan islam
dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat diharapkan sejauh menyangkut
development dan becoming sesuai dengan citra manusia menurut pandangan islam.
3. Konsep fitrah
dan aliran konvergensi
Dari
satu sisi, aliran konvergensi dekat dengan konsep fitrah walaupun tidak sama
karena perbedaan paradigmanya.
Adapun
kedekatannya:
v Pertama:
Islam menegaskan bahwa manusia mempunyai bakat-bakat bawaan atau keturunan,
meskipun semua itu merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan,
v Kedua:
Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum berarti bagi kehidupan
manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan diaktualisasikan.
Namun
demikian, dalam Islam, faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku
sehingga tidak bisa dipengaruhi. Ia bahkan dapat dilenturkan dalam batas
tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah lingkungan dengan segala
anasirnya. Karenanya, lingkungan sekitar ialah aspek pendidikan yang penting.
Ini berarti bahwa fitrah tidak berarti kosong atau bersih seperti teori tabula
rasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi dengan berbagai sumber daya
manusia yang potensial
Kajian
tentang manusia telah banyak dilakukan para ahli yang selanjutnya dikaitkan
dengan berbagai kegiatan, seperti politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan,
agama dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan karena manusia selain sebagai
subjek (pelaku), juga sebagai objek (sasaran) dari berbagai kegiatan tersebut.
Termasuk dalam kajian Ilmu Pendidikan Islam. Pemahaman terhadap manusia menjadi
penting agar proses pendidikan tersebut dapat beerjalan dengan efektif dan
efisien.
Pengetahuan
tentang asal kejadian manusia adalah amat penting dalam merumuskan tujuan
pendidikan bagi manusia. Asal kejadian ini justru harus dijadikan pangkal tolak
dalam menetapkan pandangan hidup bagi orang Islam. Pandangan tentang
kemakhlukan manusia cukup menggambarkan hakikat manusia. Manusia adalah makhluk
(ciptaan) Allah adalah salah satu hakikat wujud manusia.
Quraish
Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur‟an
mengungkapkan pendapat Alexis Carrel tentang kesukaran yang dihadapi untuk
mengetahui hakikat manusia bahwa
“Sebenarnya
manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk
mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak
dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan dan para ahli bidang
keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui
beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara
utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian
tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita
sendiri.
Pada hakikatnya,
kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari
manusia kepada diri mereka hingga kini masih tetap tanpa jawaban.
Satu-satunya
jalan untuk mengenal dengan baik siapa manusia, adalah merujuk kepada wahyu
Illahi (Al-Qur‟an)
dan As-Sunnah (Hadits Rosulullah SAW), agar kita dapat menemukan jawabannya.
Bagaimanakah perspektif Al-Qur‟an
dan As-Sunnah tentang hakikat dan fitrah manusia? Makalah ini berusaha
mengungkapkan Hakikat dan Fitrah manusia dalam perspektif Al-Qur‟an dan
As-Sunnah.
D.
Hakikat
Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an
Hakikat
manusia dalam perspektif Al-Qur‟an?
Di dalam Al-Qur‟an,
manusia merupakan salah satu subjek yang dibicarakan, terutama yang menyangkut
asal-usul dengan konsep penciptaannya, kedudukan manusia dan tujuan hidupnya.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena al-Qur‟an
memang diyakini oleh kaum muslimin sebagai firman Allah SWT yang ditujukan
kepada dan untuk manusia.
Ada tiga kata
yang digunakan Al-Qur‟an
untuk menunjuk kepada manusia, 4 yaitu:
a. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan sin semacam insan, ins, nas atau unas.
a. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan sin semacam insan, ins, nas atau unas.
b. Menggunakan kata
basyar.
c. Menggunakan
kata Bani adam dan Dzuriyat Adam.
Sementara
Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam mengatakan bahwa istilah manusia
dalam Al-Qur‟an
dikenal tiga kata, yakni kata al-insân, al-basyâr dan al-nâs.53 Quraish Shihab.
Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat.
Walaupun
ketiga kata di atas menunjukkan arti pada manusia, tetapi secara khusus
memiliki pengertian yang berbeda:
1) Al-Insân
Al-Insân
terbentuk dari kata yang berarti lupa. Kata al-insân dinyatakan dalam al-Qur‟an sebanyak 73
kali yang disebut dalam 43 surat. Penggunaan kata al-insân pada umumnya
digunakan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi,
sekaligus dihubungkan dengan proses penciptaannya. Keistimewaan tersebut karena
manusia merupakan makhluk psikis disamping makhluk pisik yang memiliki potensi
dasar, yaitu fitrah akal dan kalbu. Potensi ini menempatkan manusia sebagai
makhluk Allah SWT yang mulia dan tertinggi dibandingkan makhluk-Nya yang lain.
Nilai
psikis manusia sebagai al-insân yang dipadu wahyu Ilahiyah akan membantu
manusia dalam membentuk dirinya sesuai dengan nilai-nilai insaniah yang
terwujud dalam perpaduan iman dan amalnya. Sebagaimana firman Allah SWT,
Artinya:“Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala
yang tiada putus-putusnya.”(QS. At-Thiin: 6)
Dengan
pengembangan nilai-nilai tersebut, akhirnya manusia mampu mengemban amanah
Allah SWT di muka bumi. Quraish Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur‟an mengatakan
bahwa kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan
tampak. Menurutnya pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandang Al-Qur‟an lebih tepat
dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa), atau
nasa-yanusu yang berarti (berguncang). Kata insan, digunakan Al-Qur‟an untuk
menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia
yang berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental
dan kecerdasan.
Kata
al-insân juga menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan
Adam maupun proses manusia pasca Adam di alam rahim yang berlangsung secara
utuh dan berproses. Firman Allah:
Artinya:
“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan
menciptakan manusia dari tanah”.
Maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”. (QS.
Shaad: 71-72)
Artinya:
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (QS. Al-Mukminûn: 12-13)
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (QS. Al-Mukminûn: 12-13)
2) Al-Basyar
Al-Basyar
terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan
baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti
kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan
kulit binatang yang lain.
Kata
Al-Basyar dinyatakan dalam al-Qur‟an
sebanyak 36 kali yang tersebut dalam 26 surat.
Kata-kata
tersebut diungkap dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual)
untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan
manusia seluruhnya.
Pemaknaan
manusia dengan Al-Basyar memberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk
biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya, seperti makan, minum,
perlu hiburan, seks dan lain sebagainya. Karena kata Al-Basyar ditunjukkan
kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, ini berarti nabi dan rasul pun memiliki
dimensi Al-Basyar seperti yang diungkapkan firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surat
Al-Kahfi ayat 110:Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku… (QS. Al-Kahfi 110)
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku… (QS. Al-Kahfi 110)
Dengan
demikian penggunaan kata al-basyar pada manusia menunjukkan persamaan dengan
makhluk Allah SWT lainnya pada aspek material atau dimensi jasmaniahnya.
3) Al-nâs
Kata
al-nâs menunjukkan pada hakikat manusia sebagai makhluk social dan ditunjukkan
kepada seluruh manusia secara umum tanpa melihat statusnya apakah beriman atau
kafir.
Penggunaan
kata al-nâs lebih bersifat umum dalam mendefinisikan hakikat manusia dibanding
dengan kata al-insân.
Kata
al-nâs juga dipakai dalam Al-Qur‟an
untuk menunjukkan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan
labil. Meskipun telah dianugerahkan Allah SWT dengan berbagai potensi yang bisa
digunakan manusia untuk mengenal Tuhannya, namun hanya sebagian manusia saja
yang mau mempergunakannya, sementara sebagian yang lain tidak, justru
mempergunakan potensi tersebut untuk menentang ke-Mahakuasa-an Tuhan. Dari sini
terlihat bahwa manusia mempunya dimensi ganda, yaitu sebagai makhluk yang mulia
dam yang tercela.
Dari
uraian di atas, bahwa pendefinisian manusia yang diungkap dalam Al-Qur‟an dengan
istilah.
Al-Insân,
Al-Basyar dan al-nâs menggambarkan tentang keunikan dan kesempurnaan manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Hal ini memperlihatkan bahwa manusia
merupakan satu kesatuan yang utuh, antara aspek material (fisik/jasmani), dan
immaterial (psikis/ruhani) yang dipandu oleh ruh Ilahiah. Kedua aspek tersebut
saling berhubungan.
Dengan kelengkapan dua aspek material dan immaterial di atas, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya. Disini manusia memerlukan bimbingan,binaan dan pendidikan yang seimbang, harmonis dan integral, agar kedua aspek tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif.
Dengan kelengkapan dua aspek material dan immaterial di atas, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya. Disini manusia memerlukan bimbingan,binaan dan pendidikan yang seimbang, harmonis dan integral, agar kedua aspek tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif.
E.
Hakikat
Manusia Dan Kedudukannya Di Alam Semesta
Pemahaman
tentang manusia merupakan bagian dari kajian filsafat. Tak mengherankan jika
banyak sekali kajian atau pemikiran yang telah dicurahkan untuk membahas
tentang manusia . walaupun demikian, persoalan tentang manusia ajan menjadi
misteri yang tek terselesaikan. Hal ini menurut Husein Aqil al-Munawwar dalam
Jalaluddin (2003: 11) karena keterbatasan pengetahuan para ilmuan untuk
menjangkau segala aspek yang terdapat dalam diri manusia. Lebih lanjut
Jalaluddin (2003: 11) mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk Allah yang
istimewa agaknya memang memiliki latar belakang kehidupan yang penuh rahasia.
Dengan demikian,
memang yang menjadi keterbatasan untuk mengetahui segala aspek yang terdapat
pada diri manusia itu adalah selain keterbatan para ilmuan untuk mengkajinya,
juga dilatarbelakangi oleh faktor keistimewaan manusia itu sendiri.
Walaupun
demikian, sebagai hamba yang lemah, usaha untuk mempelajarinya tidaklah
berhenti begitu saja. Banyak sumber yang mendukung untuk mempelajari manusia.
Di antara sumber yang paling tinggi adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Yang mana di
dalamnya banyak terdapat petunjuk-petunjuk tentang penciptaan manusia.
Konsep-konsep tentang manusia banyak dibahas, mulai dari proses penciptaan
sampai kepada fungsinya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Dalam makalah
ini kami berupaya untuk menguraikan secara sederhana tentang hakikat manusia
dan kedudukannya di alam semesta. Yang sudah tentu hal ini merupakan kajian
untuk mempejari penciptaan manusia.
F.
Hakikat
Manusia
Berbicara
tentang manusia berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri
makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah
disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang paling
istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Menurut Ismail Rajfi manusia adalah
makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan
dan syarat-syarat yang diperlukan (Jalaluddin, 2003: 12).
Manusia
mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal.
Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang
dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah
adalah sebagai amanah.
Selain
itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbunya
manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan,
kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual (Jalaluddin, 2003: 14).
Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling
mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal,
qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan
kehidupan.
Hakikat
wujud manusia menurut Ahmad Tafsir (2005: 34) adalah makhluk yang
perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Lebih lanjut beliau
mengatakan bahwa manusia mempunyai banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh
banyaknya potensi yang dimiliki. Dalam hal ini beliau membagi kecenderungan itu
dalam dua garis besar yaitu cenderung menjadi orang baik dan cenderung menjadi
orang jahat (2003: 35).
Secara
rinci, M. Nasir Budiman (Kemas Badaruddin, 2007) mengklasifikasikan manusia ini
menjadi empat klasifikasi, yaitu:
1. Hakikat
manusia secara umum.
a. Manusia
sebagai makhluk Allah SWT mempunyai kebutuhan untuk bertaqwa
kepadaNya.
b. Manusia
membutuhkan lingkungan hidup, berkelompok untuk mengembangkandirinya.
c. Manusia
mempunyai potensi yang dapat dikembangkan dan membutuhkan materialsertas
spiritual yang harus dipenuhi.
d. Manusia itu
pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik diri sendiri.
2. Hakikat
manusia sebagai subjek didik
a. Subjek didik
bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasanpendidikan
seumur hidup.
b. Subjek didik
memiliki potensi baik fisik maupun psikologis yang berbeda sehinggamasing-masing
subjek didik merupakan insane yang unik.
c. Subjek didik
memerlukan pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
d. Subjek didik
pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi lingkunganhidupnya.
3. Hakikat
manusia sebagai pendidik
a. Pendidik
adalah agen perubahan
b. Pendidik
berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat dan
agama.
c. Pendidik
sebagai fasilitator yang memungkinkan terciptanya kodisi belajar subjekdidik
yang efektif dan efisien.
d. Pendidik
bertanggung jawab terhadap keberhasilan tujuan pendidikan.
e. Pendidik dan
tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaanproses
belajar mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya.
f. Pendidik
bertanggung jawab secara professional untuk terus-menerus meningkatkan
kemampuannya.
g. Pendidik
menjunjung tinggi kode etik profesionalnya.
4. Hakikat
manusia sebagai anggota masyarakat.
a. Kehidupan
masyarakat berlandaskan sistem nilai-nilai keagamaan, social dan budaya yang dianut oleh warga
masyarakat. Sebagian daripada nilai-nilai tersebut bersifatlestari dan sebagian
lain terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmupengetahuandan teknologi.
b. Masyarakat merupakan sumber
nilai-nilai yang memberikan arah normatif kepadapendidikan.
c. Kehidupan masyarakat ditingkatkan
kualitasnya oleh insan-insan yang berhasilmengembangkan dirinya melalui
pendidikan.
BAB IIIPENUTUP
Dari
penjelasan-penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam rangka
mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri manusia, baik itu potensi
jasmani maupun rohani, pendidikan memainkan peranan penting yang tidak dapat
dipungkiri. Dengan proses pendidikan, manusia mampu membentuk kepribadiannya,
mentransfer kebudayaan dari suatu komunitas ke komunitas yang lain, mengetahui
baik dan buruk dan lain sebagainya.
Langganan:
Komentar (Atom)














